Pernah melihat batuan raksasa untuk layar wayang kulit? Atau batu mengkilat, berwarna-warni, atau batu dengan simpanan fosil ganggang hijau berusia jutaan tahun? Kalau penasaran, ikutlah wisata ilmiah di Karangsambung, Jawa Tengah. Di sana ada 15 titik lokasi yang bisa dikunjungi, seperti berikut ini.
Lokasi pertama diTotoganterlihat jelas perbedaan morfologi batuan pra-tersier (lebih dari 65 juta tahun lalu) dengan batuan tersier. Morfologi pra-tersierdicirikan oleh bukit yang menyendiri, tidak teratur, berbentuk prismatik, batuan pada morfologi ini dikenal sebagai Melange Seboro. Sedangkan morfologi tersier terlihat berupa rangkaian gunung teratur yang membujur ke arah timur berupa Gunung Paras dan Perahu, tersusun oleh batuan sedimen breksi vulkanik formasi Waturanda yang berumur Miosen awal (15 juta tahun).
Lokasi kedua di Kali Brengkok Sadang Kulon ditemukan batuan berwarna abu-abu cerah dan tampak mengkilap jika terkena sinar matahari. Batu yang disebut "sekismika" ini merupakan batuan tertua di Jawa, yang menjadi alas pulau ini. Batuan ini terdiri dari mineral mika dan terbentuk karena pengaruh tekanan yang sangat kuat hingga menjadi sekis mika di dalam kulit bumi. Berdasarkan penanggalan secara radioaktif, ternyata batuan ini termetamorfosakan pada zaman Kapur, 117 juta tahun lalu. Ini membuktikan bahwa sejak zaman tersebut telah terjadi tumbukan lempeng samudera dengan lempeng benua di kawasan Karangsambung.
Lokasi ketiga berada di Kali Muncar Seboro. Untuk mencapai lokasi ini dapat ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 15 menit. Pada dinding Kali Muncar terlihat batuan sedimen berwarna merah memanjang sekitar 100 meter laksana kelir atau layar pertunjukan wayang dengan batuan beku pada bagian atasnya laksana kenong dan gongnya. Masyarakat sekitar menamakan singkapan batuan ini dengan nama watu kelir. Batuan beku dibagian atasnya yang tampak bulat memanjang merupakan lava basalt berstruktur bantal. Lava ini terbentuk pada zone pemekaran dasar samudera, yang berdasarkan penentuan umur secara radioaktif diketahui berumur 81 juta tahun. Batuan pada lokasi ini membuktikan bahwa setidaknya sekitar 81 juta tahun lalu kawasan ini merupakan dasar samudera dengan kedalaman lebih dari 8.000 meter. Melalui gaya tektonik yang sangat kuat, daerah ini mulai terangkat di atas muka laut pada kala Eosen 55 juta tahun lalu.
Lokasi keempat di Pucangan tampak batuan berwarna hijau gelap mengkilap yang disebut "serpentinit". Serpentinit merupakan batuan ubahan dari batuan ultra basa berwarna gelap hasil pembekuan magma pada kerak samudera. Proses ubahannya sendiri terjadi dalam dua fase. Fase pertama terjadi pada saat batuan tersebut bersentuhan dengan lingkungan air laut, sedangkan fase kedua terjadi pada saat masuk ke zone tunjaman dan terangkat ke permukaan bumi. Kesan mengkilap dan bergaris-garis tipis akibat pergesekan antar batuan karena terjadi patahan. Sekitar satu kilometer di sebelah utara lokasi ini pernah diusahakan tambang asbes hasil ubahan lebih lanjut dari batuan serpentinit.
Lokasi kelima berada di Totogan. Di tempat ini terdapat batu marmer yang merupakan batuan hasil ubahan batu gamping yang dapat dimanfaatkan sebagai batuan ornamen. Lokasi ini merupakan bekas penambangan marmer, ketebalan marmer mencapai sekitar 100 meter dengan lebar berkisar 150 meter, warna marmer yang dijumpai adalah putih (paling dominan), merah, dan hijau. Perbedaan warna ini disebabkan adanya pengotor yang masuk ke dalam batu gamping. Marmer dari lokasi ini telah banyak dimanfaatkan untuk cendera mata serta ornamen lainnya.
Lokasi keenam di Gunung Sipako. Setelah menyeberangi Kali Luk Ulo, kita bisa mendapatkan singkapan batuan berwarna hitam pada dinding sungai yang terjal. Batuan ini dikenal dengan nama "filit". Batuan ini terbentuk selama proses penunjaman serta merupakan batuan metamorf berderajat rendah. Proses tektonik dan deformasi lebih lanjut berupa patahan geser searah aliran sungai, membentuk lipatan-lipatan kecil serta struktur gores garis pada batuan filit.
Lokasi ketujuh di Kali Mandala yang mengalir ke Kali Luk Ulo mengikuti zone sesar Timur laut-Barat daya. Di lokasi ini tampak singkapan batuan yang merupakan asosiasi lava bantal dan rijang, sebagian tergerus menunjukkan struktur mata ikan yang menunjukkan adanya patahan geser. Zone patahan di Kali Mandala ini membatasi antara kelompok batuan tectonik melange (kelompok batuan campur aduk karena tektonik) serta kelompok batuan sedimentary melange (kelompok batuan campur aduk karena pelongsoran endapan bawah laut). Batuan ini awalnya diendapkan pada dasar samudera dan merupakan bagian dari lempeng samudera, yang kemudian masuk ke zone penunjaman dan terangkat di lokasi ini.
Lokasi kedelapan masih di kawasan Balai Informasi dan Konservasi Kebumian LIPI, dijumpai bongkah-bongkah batu gamping berwarna coklat kekuningan, mengandung fosil foraminifera besar berbentuk seperti uang logam, antara lain berupa numulites yang berumur Eosen (55 juta tahun lalu). Selain terdapat di lokasi ini batu gamping numulites, juga terdapat di beberapa tempat dalam formasi Karangsambung-Totogan, berupa bongkah-bongkah berukuran beberapa meter hingga ratusan meter. Bongkah batu gamping ini merupakan "olistolit" hasil suatu pelongsoran besar di dasar laut dari tepian menuju tengah cekungan yang dalam. Fosil yang ada menunjukkan bahwa pada kala Eosen kawasan sekitar Karangsambung merupakan laut dangkal di mana pada tepi-tepi cekungan diendapkan batu gamping numulites.
Lokasi kesembilan disebut Kali Luk Ulo. Singkapan batu di pinggir sungai ini tersusun oleh komponen kuarsa yang berwarna putih, batu pasir, rijang merah, batu lanau, batuan beku dan metamorf berwarna hitam yang tersemen dalam silikat, sehingga dinamakan batu konglomerat. Selain itu juga terlihat drag fold yang merupakan bukti pernah terjadinya patahan naik. Bukit Pesanggrahan di lokasi itu merupakan suatu bongkah besar yang tersusun oleh batuan konglomerat hasil pelongsoran bawah laut.
Lokasi kesepuluh adalah Wagirsambeng, terletak di puncak punggung Gunung Wagirsambeng. Seluruhnya tersusun oleh asosiasi batu rijang dan batu lempung gampingan berwarna merah. Bila pandangan diarahkan ke utara akan terlihat morfologi menawan dari batuan-batuan tectonic melange. Sedangkan jika pandangan diarahkan ke arah timur, maka akan terlihat morfologi berbentuk tapal kuda dari rangkaian Gunung Paras dan Gunung Prahu (di bagian utara), Gunung Dliwang, Gunung Pagerori, Gunung Pranggong, dan Gunung Waturanda (di bagian selatan). Di tengah morfologi ini terlihat lembah dengan Kali Welaran yang merupakan lembah antiklin, sedangkan pada puncak Gunung Paras terlihat lipatan batuan sedimen cekung ke atas yang merupakan sinklin. Kenampakan morfologi semacam ini sering disebut sebagai morfologi amphiteater yang terjadi karena adanya proses pembalikan topografi di mana puncak lipatan sekarang berupa lembah, sedangkan lembah sinklin berubah menjadi puncak gunung. Singkapan perselingan rijang merah tua dengan batu lempung gampingan merah muda, berlapis hampir vertikal membentuk puncak-puncak punggungan yang sempit memberikan kenampakan yang mempesona sebagai suatu monumen. Morfologi amphiteater dan kondisi geologi Karangsambung dapat dilihat di tempat ini. Selain itu juga terlihat singkapan rijang yang merupakan endapan laut dalam.
Lokasi kesebelas berada di Kali Cacaban. Di sepanjang dinding Kali Cacaban ditemukan batu pasir berwarna abu-abu yang awalnya diendapkan pada daerah yang mengalami tektonik labil, terutama pada daerah-daerah zone penunjaman lempeng bumi. Kenampakan singkapan sepanjang sungai ini jelas membuktikan adanya proses tektonik pada zone penunjaman di kawasan Karangsambung.
Lokasi kedua belas diberi nama Jatibungkus. Singkapan ini berupa bukit berukuran 350 x 150 meter, dan tampak terisolir di antara dataran di utara dan selatannya. Di bukit Jatibungkus ditemukan empat tipe batu gamping. Fosil yang dijumpai berupa foraminifera besar, ganggang merah, ganggang hijau, serta milliodidae. Selain itu juga ditemukan klastika kuarsa, rijang, dan batuan metamorf, yang mengindikasikan batuan ini diendapkan dekat dengan sumbernya. Batu gamping Jatibungkus awalnya merupakan sedimen yang diendapkan pada lingkungan laut dangkal berupa laguna hingga lingkungan terumbu belakang yang kemudian longsor masuk ke lingkungan laut dalam. Kontak dengan lempung bersisik serta adanya bongkah-bongkah batuan metamorf, batu pasir, konglomerat, dan batuan beku, menunjukkan posisinya sebagai bongkah asing yang terlepas dari tepi cekungan yang kemudian melengser ke bagian cekungan lebih dalam.
Lokasi ketiga belas disebut Waturanda, menampakkan tebing lereng yang vertikal yang terdiri dari perselingan batu pasir dengan breksi. Pada bagian tengah batuan ini ditemukan sekitar 23 siklus sedimentasi dari total formasi Waturanda yang setebal 1.000 meter. Formasi ini ditafsirkan sebagai fluxoturbidite yang diendapkan pada cekungan muka busur oleh arus pantai pada masa purba. Sumber materialnya diduga berasal dari aktivitas magmatik Eosen-Miosen bawah.
Lokasi keempat belas berupa saluran Air Kemangguan. Pada tepi saluran air terlihat banyak struktur pelongsoran yang yang menandakan pengendapan cepat atau adanya pergerakan tektonik dasar cekungan atau gabungan keduanya.
Lokasi kelima belas disebut Krakal, merupakan daerah pemandian air panas. Terbentuknya mata air panas yang bersifat basa ini bukan karena aktivitas gunung berapi, tetapi hasil induksi panas dari dalam bumi akibat adanya patahan yang mengenai daerah ini.
Sumber: Kompas Cyber Media
http://rusiana-permana.blog.friendster.com/2008/08/15-titik-dinamika-bumi/
http://rusiana-permana.blog.friendster.com/2008/08/15-titik-dinamika-bumi/

0 komentar :
Posting Komentar